Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam kebajikan.
Yang saya hormati, Ibu Kepala Sekolah, Bapak/Ibu Guru, dan Bapak/Ibu pegawai Tata Usaha, serta teman-teman sesama pelajar yang saya banggakan.
Pertama-tama dan yang paling utama, marilah kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayat-Nya kita dapat berkumpul denga keadaan sehat walafiat untuk mengikuti kampanye anti perundungan.
Teman-teman sekalian,
Sekolah tempat kita menimba ilmu , bercanda ria bersama teman. Sayangnya, masih ada kata-kata yang menyakitkan, perilaku kecil yang dapat membuat luka yang dalam di hati. Perilaku yang sering dianggap remeh ini, sangat berbahaya bagi korban.
Perundunga itu tidak hanya memukuli orang atau menganiaya orang. Perundungan juga dapat berupa ejekan atau berupa candaan yang berlebihan. Luka mental akibat ejekan, pengucilan, dan intimidasi dapat menetap seumur hidup. Korban beresiko mengalami kecemasan, depresi, penurunan prestasi, hingga kehilangan masa depan mereka.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa perundungan paling banyak dialami oleh siswa tingkt SD/Sederajat. UNICEF (U-Report) menemukan fakta bahwa 45% anak muda di Indonesia (usia 14-24 tahun) pernah mengalami perundungan dalam dunia maya.
Mungkin kita berfikir “hanya bercanda kok”, bercanda bagi kita tetapi menyakitkan bagi mereka. Saya bukan orang yang benar-benar terbebas dari hal yang menyangkut perundungan, saya juga ernah melakukan kesalahan. Jadi saya mengajak teman-teman sekalian bersuara untuk kebaikan dan berhenti untuk perundungan. Kita dapat melakukannya melalui hal-hal kecil, seperti berhenti ikut mentertawakan ketika ada yang mengejeek teman, mengajak berbicara orang yang di kucilkan, berhenti memanggil orang dengan julukan yang menyakitkan, menjadi pendengar yang baik, dan masih banyak lagi. Semua kegiatan kecil ini tergantung dengan kebiasaan kita, jadi kita biasakan dari hal-hal kecil dahulu.
Teman-teman, sekolah kita harus menjadi tempat paling aman dan nyaman untuk belajar, bukan tempat yang penuh ketakutan. Setiap orang berhak untuk di hargai, merasa aman, dan merasa nyaman. Mulai hari ini, marilah kita ciptakan “sekolah adalah rumah keduaku”. Rumah yang tidak ada tempat untuk ejekan, tidak ada tempat untuk merendahkan, dan tida ada tempat untuk rasa takut.
Mari bersuara, bersuara untuk kebaikan.
Sekian pidato dari saya. Jika ada kurang saya dalam menyampaikan pidato hari ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.












